Hut GKI Ke-70, Pdt. Su: Gereja Harus Berani Menyuarakan Kebenaran

· Berita, Ragam

Foto bersama Bupati Kabupaten Jayawijaya, Aletinus Murib, para hamba Tuhan dan warga jemaat di Gedung Gereja GKI Betlehem Wamena, Senin (26/10/2026). (Isak)
Foto bersama Bupati Kabupaten Jayawijaya, Aletinus Murib, para hamba Tuhan dan warga jemaat di Gedung Gereja GKI Betlehem Wamena, Senin (26/10/2026). (Isak)

Jayapura, (26/10) – Warga jemaat di Klasis GKI Balim Yalimo menggelar ibadah Hut GKI di Tanah Papua yang ke-70 tahun (26 Oktober 1956- 26 Oktober 2026) di Gedung gereja GKI Betlehem Wamena, Senin (26/10/2026).

Warga jemaat yang mengikuti ibadah syukur itu sebanyak 28 jemaat dari lingkungan I, termasuk jemaat persiapan. Sementara itu, tiga lingkungan lainnya melaksanakan ibadah di jemaat masing-masing.

Ketua Klasis Balim Yalimo, Pdt Eduard Herman Su mengingatkan sejarah berdirinya GKI sebagai gereja yang memberikan kesempatan kepada anak-anak Papua untuk mengambil bagian dalam kepemimpinan gereja.

Dia menyatakan sejak GKI berdiri, gereja ini menghadapi berbagai keterbatasan, termasuk keterbatasan keuangan dan sumber daya manusia.

Namun demikian kata dia keterbatasan itu tidak menjadi penghalang bagi pelayanan gereja dan pemberitaan Injil Yesus Kristus di tanah Papua.

“Iman kepada Tuhan harus menjadi landasan bagi gereja untuk terus bertumbuh dan melayani warga jemaat,” tukasnya.

Ia lalu mengajak seluruh warga GKI menjadikan peringatan 70 tahun ini sebagai momentum untuk memperkuat peran gereja dalam menghadirkan pemulihan, berkat, kasih, dan damai sejahtera bagi masyarakat Papua.

Ia juga menggambarkan GKI sebagai ibu yang memiliki peran penting dalam keluarga. Menurutnya, sebagaimana seorang ibu yang bangun ketika anaknya menangis pada malam hari, gereja juga harus hadir untuk memperhatikan dan menolong masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan.

GKI tidak hanya merayakan perjalanan sejarah selama 70 tahun, tetapi menjalankan tanggung jawab pelayanan bagi seluruh masyarakat tanpa membedakan suku, agama, latar belakang budaya, maupun kondisi sosial.

Ia lalu mengajak seluruh warga Klasis GKI Balim Yalimo untuk menjadi pembawa berkat, saksi kasih, serta pelopor perdamaian di tengah masyarakat.

Selain itu, ia mengingatkan warga gereja agar menjauhi narkoba, penyalahgunaan lem aibon, ganja, dan berbagai perilaku yang dapat merusak masa depan generasi muda.

“Gereja harus berani menyuarakan kebenaran dan menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat yang mengalami kesulitan.”