Artikel Berita Renungan

JANGAN TAKUT

Refleksi kotbah, Minggu 5 Juli 2020, (Yesaya, 43 : 1 – 7)

Oleh : Pdt. Sostenes Sumihe

Takut adalah perasaan yang menguasai manusia setelah kejatuhan nya dalam dosa. Inilah pengalaman Adam dan Hawa yang tidak taat dan terbuang dari hadapan Allah sebagaimana dikisahkan dalam hikayat kejatuhan manusia dalam dosa, (Kej 3, perhatikan ayat 10). Hal yang sama dialami pula umat Allah yang terbuang ke Babel. Kita pun demikian, siapa saja merasa berdosa di hadapan Allah hidupnya diliputi ketakutan. Kecuali hati ini telah membatu dan tidak ada lagi roh di dalamnya.

Dari mimbar-mimbar GKI di Tanah Papua hari ini, Minggu 5 Juli, kita diingatkan oleh Firman Allah, “Jangan takut”. Kita meyakini ini adalah Firman Allah bagi umat-Nya yang sedang terpuruk hidupnya akibat ketidaktaatan mereka kepada Allah. Namun dalam keadaan yang terbuang itu Allah berfirman: “jangan takut”! Apapun kondisi kehidupan umat Allah dan sesulit bagaimanapun pengalaman hidup ini umat tidak perlu takut.

Mengapa? Alasannya; “sebab”, Firman-Nya, “Aku telah menebus engkau” (ay 1). Luar biasa. Berdosa, tetapi ditebus, tidak taat tetapi dikasihi, memberontak tetapi diselamatkan. Itulah Allah yang kita imani dalam Kristus Yesus.

Sejarah pemberontakan dan kejahatan manusia sampai kini terus berulang. Dan kita selalu menyaksikan ketidaksetiaan dan sikap hidup berdosa terhadap Allah. Mungkin kita juga sedang mengukir sejarah itu dalam hidup kita. Tetapi hal ini tidak membatalkan penebusan kita dalam Kristus. Karena kasih-Nya jauh lebih besar dari kejahatan kita.

Tentang kasih Allah ini Yohanes mencatat bahwa “begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (3:16). Penebusan dosa kita, karena kasih Allah, bukan karena jasa baik kita. Oleh sebab itu, seperti ditekankan oleh para reformator, keselamatan semata-mata adalah anugerah Allah.

Karena penebusan dan kasih Allah itu kita tak perlu takut menjalani kehidupan dengan segala tantangannya, termasuk ancaman terhadap kehidupan karena wabah virus korona. Sebab Allah meyakinkan kita hari ini dengan firman-Nya: “sebab Aku Tuhan, Allahmu, Yang Mahakudus. Allah Israel Juruselamatmu” (ay 3). Dari dulu sampai hari ini Allah itu adalah Juruselamat, bukan hanya bagi Israel, tetapi juga Juruselamat kita, sebab Allah di dalam Yesus Kristus telah menebus dan menyelamatkan kita dari dosa.

Oleh sebab itu, tidak perlu takut menjalani hidup ini sekalipun sejak Covid-19 melanda dunia dan Papua hidup menjadi tidak mudah. Kita tidak perlu takut! Allah sendiri berfirman: “Jangan takut, sebab Aku ini menyertai engkau” (ay 5). Allah tidak hanya menebus dan menyelamatkan, tetapi juga Dia menyertai umat-Nya, yaitu dengan berkenan diam di dalam kita oleh Roh-Nya (Ep 2:22). Kita tidak menjalani hidup ini secara solo, Allah bersama dan menyertai kita. Dalam penyertaan-Nya kita akan terbiasa, aman dan damai bersama korona.

Namun penyertaan Allah ini patut kita diimbangi dengan kehidupan yang bebas dari dosa, hidup yang dipimpin oleh Roh Kudus. Penyertaan Allah dalam Roh-Nya juga mengandung kebaikan dan perlindungan dari berbagai ancaman.

“Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau” (ay 2). Air dan api dapat membawa orang kepada kematian. Tetapi dalam Kristus tidak ada kematian yang terjadi di luar kehendak Allah dan tanpa membawa kehidupan (lih Yoh 11:25). Penebusan, penyelamatan dan penyertaan Allah membawa kita kepada kehidupan. Bersama Dia tak ada satupun tantangan hidup yang tidak dapat kita lewati. Sebab dalam persekutuan dengan Tuhan, segala jerih parah kita mengatasi masalah kehidupan – tidak pernah akan sia-sia (1 Kor 15:58). Mari kita jalani kehidupan yang dianugerahkan Allah ini dalam ketaatan, kesetiaan dan kekudusan di hadapan-Nya dan dalam relasi kita dengan orang lain.

 

(Penulis adalah pengajar di STFT GKI I.S Kijne Abepura).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *