HEADLINE Klasis GKI OPINI Tanah Papua

Aku Akan Mencurahkan Roh-Ku Ke Atas Semua Manusia

Oleh: Pdt. Dr. Sostenes Sumihe

Jayapura, 31 Mei 2020

Dalam rangka memperingati keturunan Roh Kudus, GKI di Tanah Papua mendasari pemberitaan Firman hari ini pada janji Allah untuk mencurahkan Roh-Nya kepada semua manusia dan ini menandai hari Tuhan, sebagaimana dicatat dalam, Yoel 2:28-32.

Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia (2:28). Ini janji yang luar biasa. Allah menjanjikan pencurahan Roh-Nya bagi semua orang. Bukan hanya kepada orang tertentu, melainkan semua manusia dewasa, anak-anak, laki-laki, perempuan, hamba-hamba akan mendapat pencurahan Roh. Untuk apa Allah mencurahkan Roh-Nya kepada semua manusia?

Dari perjanjian lama kita memperoleh kesaksian bahwa Allah memberikan Roh-Nya kepada orang tertentu yang Ia kehendaki, agar orang itu berhikmat dalam melakukan berbagai pekerjaan, (Kel 31:3). Allah juga memberikan Roh-Nya supaya orang bisa bernubuat seperti para nabi; misalnya Saul yang dipenuhi Roh Allah bernubuat seperti seorang nabi, (1 Sam 10:10).

Mereka yang dipenuhi Roh Allah memperoleh kemampuan, kekuatan dan kuasa melakukan kehendak Allah. Dari dalam diri sendiri sesesorang tidak memiliki kapasitas melakukan rencana Allah, tetapi dengan Roh-Nya ia memiliki kemampuan melakukan pekerjaan yang hebat dan luar biasa. Itulah yang tersurat dalam janji pencurahan Roh Allah yang dinubuatkan oleh Yoel.

Orang-orang yang biasa, yang tidak mempunyai posisi dalam masyarakat, seperti anak-anak, para hamba ketika dicurahi Roh Allah, mereka mampu melakukan hal-hal yang dilakukan para nabi, yaitu bernubuat, mimpi dan memperoleh penglihatan mengenai apa yang Allah akan lakukan. Jadi dengan Roh-Nya Allah hendak bekerja dengan siapa saja sesuai rencana dan kehendak-Nya. Karya Allah di dalam Roh menjangkau semua manusia, tanpa kecuali.

Universalitas karya Allah di dalam Roh itu menjadi sangat jelas pada hari Pentakosta, sebagaimana dicatat oleh Lukas dalam Kisah Rasul 2:1-13. Lukas mencatat bahwa Roh Kudus itu tidak tercurah hanya untuk kelompok tertentu, melainkan bagi semua manusia; sebab ketika Roh Kudus turun “semua orang percaya berkumpul di satu tempat” (2:1).

Roh Allah itu, yang disebut sebagai Roh Kudus, menggerakkan siapa saja yang percaya untuk berkumpul dan bersekutu. Karena alasan ini keturunan Roh Kudus dianggap selaku awal keberadaan gereja sebagai sebuah persekutuan orang-orang percaya. Dengan ini sesungguhnya, Allah di dalam Roh-Nya telah menciptakan umat-Nya yang baru, yang tidak hanya terdiri dari satu suku bangsa, melainkan semua manusia. Umat yang baru ini, digambarkan sebagai persekutuan yang selalu ada dalam gerak dan aktif bersaksi, yang membuat umat Allah yang baru itu memiliki karakter atau sifat misioner dan kudus, yang terus-menerus dibaruhi dan dituntun oleh Roh ke dalam kebenaran. Dan karena karakter yang demikian, umat Allah yang baru ini, disebut sebagai “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri”, (1 Pet 2:9).

Sebagai persekutuan umat Allah yang baru, setiap anggota gereja diberikan kuasa dan kemampuan oleh Roh Kudus untuk bermimpi, berpenglihatan dan bernubuat, sebagaimana disebutkan dalam kitab Yoel itu. Mimpi, penglihatan dan nubuat gereja tersebut berkaitan dengan apa yang sedang dan akan Allah lakukan di dalam dunia ini. Mampukah gereja dan orang Kristen bermimpi, berpengelihatan dan bernubuat tentang apa yang sedang dan akan Allah lakukan di dalam gereja maupun di tengah masyarakat, terutama pada hari-hari di mana kita sedang mengalami wabah virus korona?

Tentu kita mampu, karena kuasa dan kemampuan tersebut sudah diberikan Allah dengan pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta, yang kita rayakan hari ini. Oleh Roh itu, kita dapat melihat apa yang Allah sedang kerjakan ketika, karena virus korona, ibadah harus dilakukan di rumah masing-masing keluarga dan orang menjadi rajin berdoa dan membaca Firman Allah di rumah. Ini tanda bahwa Allah sedang bekerja membarui relasi semua umat manusia dengan Tuhannya. Bahkan ini patut dicatat sebagai pekerjaan Allah untuk memulihkan setiap pribadi orang percaya yang menjadi tempat kediaman Allah oleh Roh (Ep 2:22), agar selalu menjadi altar penyembahan bagi Allah.

Itulah yang menjadi inti nubuatan dan pemberitaan gereja hari ini, bahwa Allah sedang bekerja membarui kehidupan beriman umat-Nya, baik dalam hubungannya dengan Tuhan maupun dengan sesama serta membawa semua orang kepada keselamatan. Setiap orang patut menyambut berita  keselamatan tersebut dengan memperbaiki relasinya dengan Tuhan dan dengan sesamanya manusia, meninggalkan semua kejahatan dan menegakkan keberadaan sebagai bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah.

Pengalaman dengan wabah virus korona telah menggugah banyak orang untuk lebih intens datang kepada Allah dan oleh Roh-Nya tidak sedikit orang digerakan untuk berdoa dan peduli dengan orang lain melalui bantuan kemanusiaan. Roh Kudus telah menyentuh hati yang keras dan egois dan dijadikan hati yang taat dan berbelas kasih, sehingga tampaklah kepada kita keutuhan manusia yang hidup dalam persekutuan dengan Allah dan dengan sesama yang lain.

Manusia yang hidup terkotak-kotak dan terpisah satu dengan yang lain karena perbedaan suku, budaya, agama, status sosial dan politik, kini digugat dan didorong memasuki tatanan kemanusian baru. Gereja yang memiliki karakter dan jati diri persekutuan, tetapi jemaat-jemaatnya cenderung tertutup untuk diri sendiri sedang ditegur dan digerakkan oleh Roh Kudus untuk memasuki persekutuan yang sejati, yang tidak terhalang oleh kepentingan membangun diri sendiri. Itulah mimpi dan penglihatan yang Allah berikan dalam tidur kita yang panjang selama ini, agar bangun dari kemapanan untuk membarui kehidupan bergereja dan bermasyarakat. Apakah semua ini tanda hari Tuhan yang disebutkan nabi Yoel itu?

Yoel memberikan ciri hari Tuhan itu sebagai hari yang “hebat dan dasyat” (2:23). Tentu kita tidak akan menyamakan korona dengan hari Tuhan. Hari Tuhan itu jauh lebih hebat dan dasyat dari kedasyatan korona yang membuat ribuan manusia mati diberbagai belahan bumi ini. Namun, korona telah membuat kita terjaga dari mimpi dan memperoleh penglihatan mengenai pekerjaan keselamatan Allah yang harus kita nubuatkan, saksikan dan beritakan menjelang hari Tuhan. Sebab semua orang patut mengetahui bahwa hari Tuhan yang hebat dan dasyat itu adalah hari keselamatan bagi mereka yang “berseru kepada nama Tuhan” (2:32).

Kalau hari-hari ini karena korona banyak orang berseru kepada Tuhan, ini tanda bahwa Allah sedang bekerja untuk membawa setiap orang kepada keselamatan. Kalau setiap keluarga melalui ibadah di rumah masing-masing berseru kepada nama Tuhan, adalah tanda bahwa kita sedang dituntun memasuki kegenapan keselamatan ketika hari Tuhan itu tiba. Dan kita akan tahu, bahwa “setiap orang yang dipanggil Tuhan termasuk orang-orang terlepas”, (2:32). Orang-orang yang diselamatkan.

Tetaplah beribadah dan terus berseru kepada nama Tuhan, sebab dalam hari-hari ini kita diperkenankan Allah untuk melihat bahwa Ia sedang bekerja bagi keselamatan kita. Allah di dalam Roh-Nya sedang membarui setiap orang percaya untuk menyongsong hari Tuhan yang hebat dan dasyat, yaitu hari keselamatan.

Selamat merayakan Pentakosta.

(Penulis adalah pengajar di STFT I. S. Kijne Abepura)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *