HISTORIS OPINI Tanah Papua

Pesan I. S. Kijne Untuk Semua Orang di Tanah Papua

Oleh : Soleman Itlay

Tempatnya di Jemaat GKI Harapan Abepura, tepat pada 26 Oktober 1956. Hari itu tercatat sebagai hari berdirinya atau lahirnya GKI di Tanah Papua. Tapi bagi orang Papua momen itu termasuk hari bersejarah, karena di dalam pidato Pdt. I. S. Kijne ada 2 pesan penting untuk semua orang yang hidup di Papua. Lihat pesannya di ujung coretan ini.

Tantangan anak muda tidak tahu bagi mayoritas anak – anak muda GKI di Tanah Papua yang penuh dengan perkembagan kecanggihan teknologi serta derasnya arus informasi saat ini. Mereka mungkin sama dengan non-anggota jemaat GKI di Tanah Papua.

Bisa saja mereka lupa atau tidak tahu, tetapi kita tidak berharap seperti itu. Berbahaya. Bahaya dari sejarah bahaya kalau seseorang (anggota jemaat) atau suatu bangsa lupa atau tidak tahu sejarahnya. Itu sama halnya dia (mereka) lupa diri atau tidak tahu diri. Apa resikonya? Orang lain mudah merubah, melencengkan, membelokan, dan mengelapkan sejarah suatu bangsa (jemaat).

Kalau sampai pada tingkatan itu? Jangan berharap tunggu mati! Sebab sebelum orang lain membunuh kita dengan pedang, sangkur, senjata dan lainnya, kita telah bunuh (membutakan) diri terlebih dahulu dengan penyakit sejarah manusia, yaitu: “lupa dan tidak tahu”.

Soal lain, kita kehilangan ± 6 juta jiwa (1963 – saat ini) di tangan kekuasaan manusia biasa. Generasi penerus kehilangan jejak langkah bagi orang Papua, khususnya anggota jemaat GKI yang tidak sempat menulis, tidak tahu, belum terbiasa atau memang yang malas menulis, membuat generasi penerus bingun dan kehilangan jejak kaki mereka yang ternilai.

Barangkali merugikan karena tentu saja mereka pergi tanpa meninggalkan sejumlah pengetahuan akan sejarah masa lalu. Kepergian mereka secara paksa, menghadap Tuhan, terutama para pelaku sejarahwan GKI di usia mudah sangat mengkhawatirkan gereja.

Hal tersebut dipandang pantas, karena itu berpotensi membahayakan eksistensi hidup bagi jemaat maupun orang Papua dalam hidup bergereja dan bermasyarakat. Dikatakan demikian, karena kepergian mereka telah membawah sejumlah pesan dan pengetahuan berharga untuk generasi penerus mengikutinya.

Namun tak perlu takut seperti kita alami pada rezim yang dasar. Karena masih ada harapan di tangan orang Papua yang sisah, ± 2 juta.

Lebih lanjut lihat BPS Provinsi Papua dan Papua Barat 2018. Pesan karya kekal I. S. Kijne. Salah satunya dia telah pergi lama, namun pesannya tetap hidup kekal di tanah Papua. Hal ini patut disyukuri kepada Tuhan karena dia telah memberikan kemampuan kepada tokoh Zending terkemuka itu untuk tak hanya bicara. Namun imbangi semua yang baik lewat tulisan. Tulisan – tulisannya penuh berbobot. Pahlawan gereja di Tanah Papua, dia maupun Mgr. Rudolf Staverman, OFM dan Mgr. Herman Munninghof, OFM. Mereka pantas disebut pahlawan bagi gereja dan tanah Papua. Karena mereka sangat berjasa bagi orang Papua. Mereka pantas dikenang selalu, karena mereka berani menentang pemerintah kolonial belanda, Jepang, Indonesia dan imperialis Amerika Serikat.

Pesan Hidup I. S. Kijne Pada 28 Oktober 1956 itu, Kijne tegaskan: ”Di tanah ini, kita (pemerintah Belanda/Zending Belanda atau orang Eropa/Melayu) yang dapat memegang kemudi. Tetapi bukan kita yang menentukan arus atau arahnya”. Maksud dia, yang menentukan nasib dan masa depan orang Papua itu oleh 2 orang. Pertama, karena kehendak Tuhan. Kedua, karena orang Papua itu sendiri. Kedua pesan ini ada di dalam pidato Kijne. Lebih jelasnya dapat dilihat dalam buku: “himpunan pidato Pada Hari Peresmian Gereja Kristen Injili di Tanah Papua, hal. 12 – 22”.

Namun 2 pesan yang disampaikan Kijne bukan 2 pesan yang disebut di muka paragraf di atas. Itu lain lagi. Dua pesan Kijne yang penulis maksudkan untuk semua orang yang lahir, besar, tinggal, bekerja, dan mencari nafkah hidup di tanah Papua (Sorong – Merauke) itu adalah sebagai berikut: Pertama, panggilan bangsa ini oleh Tuhan. Kedua, barang siapa yang bekerja di tanah ini dengan jujur, mendapat tanda heran dari tanda heran yang lain.

Pesan asli Kijne yang kedua dalam buku karya Marthinus Theodorus Mawene itu berbunyi demikian: barang siapa yang bekerja di tanah ini dengan sadar, berjalan dari pendapatan heran kepada pendapatan heran yang lain. Dan itulah yang menentukan perkembangan. Begitu pesan Kijne untuk kitong semua. Baik itu orang asli Papua, non-Papua dan semua suku bangsa, beragama Kristen, Islam, Hindu, Budha dan lainnya di tanah Papua.

Hormat untuk GKI di Tanah Papua (1956 disebut GKI Nederlands Niew Guinea), yang merayakan HUT setiap tahun pada 26 Oktober. Semoga GKI senantiasa kokoh demi masa depan gereja, orang dan tanah Papua.

 

Penulis adalah masyarakat Papua, tinggal di Kota Jayapura

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *