HEADLINE

Kisah Hidup Trijntje Huistra di Tanah Papua

Dari Serui, Angguruk hingga Kurima dan P3W Tuangken

Kalau di tahun 2016 ini, saya melihat kembali kehidupan saya di masa lalu, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada semua teman saya di Papua. Mereka memperkaya dan memberi warna kepada kehidupan saya. Kehidupan saya di Papua merupakan pengalaman yang sangat luar biasa. Terjadi perjumpaan timbal balik antara dua budaya dan pola pikir. Keduanya saling menghormati dan menikmati keberadaan masing-masing dengan toleransi yang tinggi. Sebelum saya mengunjungi sekolah dasar, kami sudah mengenal kata-kata seperti: ‘Papua’,‘burung Cenderawasih’ dan ‘karang’.

Sewaktu saya mengunjungi sekolah pendidikan guru di Leeuwarden di Negeri Belanda bagian Utara, kami sering mendengar cerita-cerita dari teman-teman yang bekerja di Papua. Bahkan di koridor sekolah kami, kami bisa melihat perahu asli dari danau Sentani. Juga di rumah keluarga kami, banyak ditemui buku-buku tentang kebudayaan Papua. Semua ini sangat menarik perhatian saya dan menambah minat saya untuk bekerja di Papua.

Serui, 1960 – 1963

Mimpi saya menjadi kenyataan. Di tahun 1960 saya ditugaskan sebagai guru SD di Serui, di mana pada waktu itu beberapa guru dari Papua juga sudah bekerja, di antaranya: Bapak Rumaseuw, almarhumah Ibu Els Ayemiseba, Ibu Dortje Wosiri, Bapak mandor Maipon dan guru-guru lainnya yang berasal dari Belanda. Waktu itu tempat kediaman di Serui adalah rumah yang dibangun sekitar tahun 1924 oleh Bapak Jakob Bonai bersama Pendeta Bout. Rumah itu berdiri di atas tiang-tiang dan dinding dibuat dari gabah yang berasal dari tulang daun pohon sagu. Di halaman rumah itu juga tumbuh pohon-pohon kelapa, pisang, jeruk dan pepaya, yang pada malam hari banyak dikunjungi kalong-kalong. Jika matahari sudah terbenam, malam dipenuhi dengan beraneka ragam bunyi-bunyian yang baru bagi saya, seperti suara jangkrik, cicak, dan lain-lain. Bersama dengan Els, Dorce dan Dini, kadang-kadang kami naik perahu ke Ambai – Rondeppi, tempat di mana orang tua dari Els tinggal.

Trijntje Huistra bersama Rina Yanike di Eropa. (Ist)

Ayah dari Els adalah Kepala Sekolah dan Guru Jemaat di sana. Pada hari Minggu beliau berkotbah dan main seruling, yang ia pelajari dari Bapak Kijne sewaktu ia sekolah di Miei. Ia juga mengajar beberapa anggota jemaat bermain seruling. Biasanya pada Hari Sabtu sore kami bersama dengan anak-anak sekolah pergi ke pantai di Mariadei atau ke Kali Mantenbu. Waktu bulan purnama kami pergi ke pantai dan bernyanyi bersama. Hampir tiga tahun saya bekerja di SD Serui. Periode ini sangat menentukan jalan apa yang akan saya pilih di masa yang akan datang. Selama itu saya mendapatkan pelajaran hidup yang sangat luar biasa, seperti persahabatan, saling memperhatikan satu dengan yang lainnya, kesederhanaan hidup, kekayaan alam. Barang seni yang terbuat dari alam, tanpa merusak alam itu sendiri, contohnya: kabila yang dibuat di kampung Ambai. Tanggal 19 maret 1963 Dini, Leny dan saya harus meninggalkan Serui, kembali ke tempat asal kami, Belanda.

Angguruk, 1969 – 1983 

Di tahun 1969 saya mendapat kesempatan kembali ke Papua, yang waktu itu disebut Irian Jaya. Saya kembali bukan sebagai guru, tapi sebagai perawat di Rumah Sakit ‘Efata’ di Angguruk, yang diperkerjakan oleh Gereja Kristen Injili (GKI).Waktu itu almarhum Bapak Y. Mamoribo, Ketua GKI, dan Bapak M. Koibur, Sekretaris GKI, menerima saya bekerja di sana. Sesudah beberapa minggu menunggu izin bekerja di Abepura, pada akhirnya saya bisa berangkat ke Angguruk. Kebetulan pada waktu itu keluarga Zöllner juga kembali ke sana. Pada tanggal 8 Juli kami bersama-sama berangkat dengan pesawat MAF ‘Mike Papa Delta’ ke Angguruk di daerah pegunungan. Luar biasa penerbangan dari Sentani ke Angguruk ini.

Di bawah kami terlihat hutan dan sungai yang berliku-liku, burung berwarna-warni yang terbang bolak-balik. Ini merupakan pengalaman yang sangat indah bagi saya. Belum pernah saya melihat keindahan yang luar biasa itu selama hidup saya. Betapa indahnya ciptaan Tuhan ini!! Sesudah satu jam penerbangan, Ibu Zöllner menunjukkan kepada saya di mana letak Angguruk, satu titik kecil di kelilingi ladang, pendukuhan dan rumah-rumah beratap seng. Setelah mendarat kami diterima oleh penduduk Yali. Ketika saya melihat mereka, terlintas dalam benak saya bahwa dalam waktu dekat mereka akan menjadi teman-teman saya. Saya akan tinggal di antara mereka.

Sejak saat itu Angguruk sudah menjadi tempat kerja saya. Memang saya masih harus banyak belajar seperti: mempelajari kebudayaan suku Yali dan cara hidup dan cara pikir mereka. Saya berasal dari negara dengan kebudayaan yang berbeda dari kebudayaan mereka. Hal ini saya alami setelah saya mulai bekerja. Setiap hari perbedaan ini mengejutkan saya. Syukurlah Dokter dan Ibu Vriend bersama bapak mantri Rumere menolong saya untuk beradaptasi. Juga ada teman-teman di Yali yang bekerja di rumah sakit seperti saudara Paulus Kabag, Femmy, Ester, Helena, Josina, Mika, Ibu Augu Deda, dll.

Apa pengalaman yang mengejutkan saya selama di Angguruk?
Saya terkejut dengan kebiasaan penduduk Yali seperti: anak yang ujung jari kelingkingnya dipotong. Ketika saya menanyakan hal ini kepada mereka, mengapa mereka melakukan hal ini, mereka menjawab: ‘Itu biasa, bukan? Ibunya sudah meninggal dan pemotongan jari itu sebagai kenangan akan ibunya. Kamu memiliki foto dari ibu kamu yang meninggal, kami tidak. Syukurlah hal ini jarang terjadi, bukan seperti di lembah Balim.

Suster Trijntje Huistra bersama Yustina Kenangalem di Jerman. (Ist)

Atau hal lain seperti ada seorang anak bernama ‘Wam-eleg’yang berarti ‘tidak ada babi di rumah’. Karena ketika anak itu dilahirkan, keluarganya tidak mempunyai babi untuk diberikan kepada keluarga lainnya. Seketika itu saya juga menyadari bahwa nama saya juga dianggap lucu. ‘Trijntje’ ditulis ‘Treintje’ yang berarti kereta api kecil. Lama kelamaan saya dapat mengerti penduduk Yali sedikit demi sedikit. Awal mulanya kalau mereka datang terlambat di poli saya merasa jengkel, sebab saya juga mempunyai banyak pekerjaan di rumah sakit. Tetapi kemudian saya sadar bahwa mereka datang dari jauh, dan harus jalan jauh melewati pegunungan atau di hujan.

Waktu kami mulai dengan penimbangan badan anak-anak kecil dan pemeriksaan ibu-ibu hamil di kampung sekeliling Angguruk, seringkali saya ditanya oleh orang-orang: ‘Mengapa suster pakai sepatu? Lebih gampang telanjang kaki?’ Teman kami langsung menjawab: ‘Ah, dia tidak bisa jalan dengan telanjang kaki, karena kulit telapak kakinya halus seperti bayi yang baru lahir’. Kira-kira tahun 1974 perang suku hampir tidak ada lagi. Itu berarti jadi lebih mudah untuk berjalan kaki dari kampung yang satu ke kampung yang lain. Orang-orang yang datang ke poli bertambah banyak dan mereka juga seringkali membawa bayi-bayi tanpa ibu, karena ibunya meninggal setelah melahirkan. Petugas-petugas rumah sakit juga di tahun itu bisa mengunjungi kampungkampung Poronggoli, Tanggeam-Serekasi atau Piniyi.

Kabar baik ini yang dibawa oleh penginjil-penginjil ke tiap kampung merubah cara hidup penduduk Yali. Perubahan ini saya alami sebagai hal yang luar biasa, yang harus dijaga dan dikembangkan. Di Angguruk kami hidup bersama-sama sebagai satu keluarga besar. Kami berasal dari Biak, Serui, Yalimo, Tomohon, Jerman dan Belanda. Tiap hari Jum’at malam kami berkumpul di satu tempat untuk mendengar ‘Firman Allah’ dan untuk bertukar pikiran tentang pekerjaan kami atau bertukar informasi yang kami terima melalui radio SSB. Pertemuan ini memperkuat kepercayaan kami bahwa pekerjaan kami tidaklah sia-sia.

Polimo, 1984 – 2002 

Bulan Mei 1983 saya berangkat dari Angguruk. Dengan berat hati saya meninggalkan teman-teman dengan siapa saya berbagi kehidupan di Angguruk selama 14 tahun. Sekembalinya di Negara Belanda saya masuk Sekolah Kesehatan lagi, sebab di dalam dinas kesehatan sudah banyak dirubah. Sekolah ini berada di Amsterdam. Banyak perbedaan yang besar antara Angguruk dan Amsterdam.

Angguruk: Di malam hari, di mana langit cerah dan dipenuhi bintang-bintang, saya meluangkan waktu dengan duduk-duduk dan menyanyi atau naik gunung sewaktu bulan purnama dengan teman-teman dari Rumah Sakit. Amsterdam: Pada malam hari selalu hingar-bingar, lalu lintas yang selalu sibuk dan udara dipenuhi dengan ‘gas knalpot’ dll.

Pada satu malam tiba-tiba telefon berdering, telefon dari Suster Ursula Wörmann di Jerman. Ia mengundang saya untuk bekerja kembali di Papua, di Polimo bersama dengan Suster Käthe Glücks. Tugas kami adalah melanjutkan pekerjaan yang dimulai oleh Suster Hanna Kessler dan Suster Martha Diehl pada tahun 1974, untuk membantu memajukan kaum wanita. Tawaran ini sangat mengharukan saya, karena berarti saya bisa kembali lagi ke Papua yang dekat dengan hati saya. Tapi saya kurang berpengalaman dalam bidang ini. Syukurlah orang tua saya, bersama kakak saya, Ineke, dan beberapa teman membantu saya untuk mengambil keputusan. Akhirnya saya kembali lagi ke Papua, di Polimo pada tanggal 24 Maret 1984. Pada awalnya tugas baru ini saya rasakan sangat berat, terutama dalam menjalin hubungan dengan kaum ibu di sana. Seiring dengan jalannya waktu saya banyak belajar dan mendapatkan pengalaman sehingga saya bisa menjalin hubungan dengan kaum ibu di sana.

Papan nama P3W Tuangken Polimo di Kurima. (Yani Meage-MK)

Saya dapat memahami kebutuhan mereka lebih baik sehingga mereka mulai mempercayai saya. Bersama dengan Bapak Pilipus Pahabol, yang berasal dari Yohosem, dan seorang penginjil dari Kiroma, saya pergi ke Yohosem, yang terletak di antara Angguruk dan Polimo. Gadis-gadis di sini tidak bersekolah walaupun mereka ingin belajar membaca, menulis dll. Hal ini disebabkan oleh ketakutan mereka akan bahaya yang akan mereka hadapi dalam perjalanan ke sekolah yang letaknya sangat jauh dari tempat mereka. Melalui kontak dengan P3W GKI di Abepura, saya dapat berkenalan dengan Eklafina, dari kampung Apahapsili, yang mau menemani dan menolong saya di Yohosem. Di sana pada awalnya setiap hari 12 gadis dari Yohosem dan Kiroma datang ke gereja untuk belajar membaca, menulis, menghitung, menjahit, dll.

Setiap hari Eklafina menceritakan satu cerita dari Alkitab. Beberapa minggu kemudian kaum ibu di sana memberitahu kami bahwa mereka ingin belajar menjahit. Seminggu sekali mereka datang belajar. Kami senang bekerja di Yohosem dan mempelajari apa yang mereka butuhkan dan yang mereka senangi. Kira-kira dua tahun kemudian Eklafina pulang ke Apahapsili dan digantikan oleh Femmy dari Angguruk. Secara teratur kami pulang ke Polimo untuk bertemu dengan suster Käthe, karena saya juga adalah anggota jemaat Wutalo. Setiap kali dalam perjalanan pulang dari Yohosem, kami bertemu dengan beberapa ibu-ibu yang baru pulang dari berkebun. Setiap kali mereka selalu bertanya: “Kapan kalian datang mengajar kami?”. Kami menyampaikan usul dari ibu-ibu Mugwi ini kepada P3W di Abepura. Tidak beberapa lama kemudian P3W mengirim Ibu Okto Ronsumbre dan Ibu Maria Rumsaur berangkat ke lembah Mugwi dan memilih tempat tinggal di Yuarima yang terletak lebih di tengah-tengah. Dari situ tiap hari mereka pergi ke suatu kampung untuk menyebarkan Firman Tuhan, mengajar ibu-ibu menjahit, dll.

Sangat menakjubkan melihat betapa besar dedikasi yang mereka berikan dalam melakuan tugas ini. Dengan fasilitas yang sangat minim, mereka tetap terus bekerja di kampung. Dua tahun kemudian Ibu Loisa Mirino dan Ibu Hanna Paa mengambil alih tugas mereka dan meneruskan pekerjaan pendahulu mereka. Setelah itu saya kembali ke Polimo. Syukurlah pekerjaan dengan kaum wanita di Polimo, Kurima masih tetap berjalan. Sejumlah ibu dari Mugwi, Kurima sudah mengikuti kursus bersama dengan ibuibu Yalimo di Sekolah Alkitab di Apahapsili, yang diselenggarakan oleh Klasis GKI Balim – Yalimo.

Mereka juga mengikuti konferensi di kampung Tangma. Semua ini mereka lakukan untuk memperdalam ilmu Alkitab dan kepercayaan mereka. Saya melihat bagaimana Injil merubah kehidupan wanita. Injil memberikan penghiburan dalam kehidupan yang berat. Mereka juga lebih banyak bertanya tentang isi Alkitab. Mereka tercengang setelah mengetahui bahwa Alkitab itu bisa dibaca oleh pria dan wanita, di mana tidak ada perbedaan di antara dua lawan jenis ini. Mereka juga tercengang bahwa pria dan wanita juga dibaptis di satu tempat dan dengan cara yang sama, juga menerima Perjamuan Kudus yang sama. Di dalam gereja tidak ada rahasia di antara pasangan hidup. Pada suatu hari saya bertemu dengan seorang pria yang memberitahukan saya bahwa sejak isterinya bisa membaca Alkitab, setiap hari mereka membaca Alkitab bersama. Sekarang ia melihat istrinya lebih sebagai pendamping hidupnya yang sejajar.

Sekitar tahun 1993, ketika saya berada di P3W di Abepura, tiba-tiba sejumlah anak laki-laki yang berasal dari Kurima muncul di hadapan saya. Di antara mereka adalah Bapak Pendeta Yudas Meage. Mereka mengundang saya untuk datang ke asrama mereka di jalan Yoka. Sore itu bersama Ibu Henny almarhumah, kami berangkat ke sana. Di dalam pertemuan ini mereka membicarakan pemikiran mereka. Mereka ingin bahwa di Kurima dibangun satu gedung di mana ibu-ibu dan gadis-gadis belajar untuk berkembang sesuai dengan perubahan waktu, dan teknologi di jaman modern ini, di daerah Balim. Tujuannya agar pria dan wanita dapat lebih baik saling mengerti dan saling tolong-menolong. Dengan penuh semangat mereka menjelaskan rencana mereka. Pembicaraan ini kami sampaikan kepada Staf P3W. Beberapa hari kemudian Staf P3W mendatangi Pendeta W. Rumsarwir almarhum yang juga mejabat sebagai Ketua GKI.

Mereka membicarakan rencana ini. Hasil perundingan itu ialah bahwa semua pihak setuju. Dengan ini lahirlah P3W Kurima yang dibangun dan dibina meneladani P3W GKI di Abepura. Syukurlah penggergaji dan tukang-tukang kayu berasal dari Wanem-Tangma dan Lembah Mugwi. Tiap hari Jum’at para ibu juga ikut memikul papan ke Wutalo. Para bapak memikul balokbalok. Sangat luar biasa melihat kegotongroyongan mereka dalam membangun P3W. Kami sungguh terharu melihat kemauan besar mereka.

Dua kali kami mengunjungi teman-teman penggergaji di hutan. Hal ini merupakan pengalaman kami yang sangat luar biasa. Kami sangat menghargai dan terharu melihat bagaimana mereka hanya menebang satu pohon besar tanpa merusak pohonpohon di sekelilingnya. Waktu bahan bangunan hampir lengkap dan tukang-tukang kayu bisa mulai, kami menyelenggarakan kebaktian bersama yang sederhana. Kepala suku Masahuk (pemilik awal tanah di waktu itu yang kemudian menjualnya kepada Suster Hanna dan Martha) meletakkan batu pertama dan mendoakan pekerjaan itu akan mulai. Sekali lagi kita menyadari bahwa pekerjaan itu memerlukan berkat Tuhan.

Waktu gedung selesai pada tanggal 16 Desember 1998, diselenggarakan pesta besar. Gedung itu dinamai ‘Tuangken’ yang berarti satu tanaman kecil yang sederhana tetapi penuh dengan kekuatan penyembuhan. Syukurlah waktu itu puluhan orang membantu kami menyukseskan pesta itu. Seluruh gedung itu dibiayai oleh Jemaat Waldbröl di Jerman. Sampai saat ini (sudah lebih dari 50 tahun lamanya), setiap tanggal 1 November diadakan lelang besar di Waldbröl yang dibantu oleh semua penduduk di sana. Pendapatan dari lelang ini dikirim melalui UEM (Vereinte Evangelische Mission) di Jerman ke Papua. Sudah beberapa kali ada anggota-anggota jemaat ini yang mengunjungi Polimo. Hubungan kedua jemaat ini sangat erat. Sekarang gedung ‘Tuangken’ selalu digunakan setiap hari sebagai asrama untuk gadis-gadis yang bersekolah SMP di Polimo, juga untuk kursus ibu-ibu yang memimpin kaum ibu yang tinggal di daerah itu.

Ibu-ibu kaum ibu dari Rayon GKI Kurima, Ibiroma, Mugwi dan Yoghosem ketika berduka di P3W Tuangken Polimo atas kepergiaan suster Hidup Trijntje di Belanda. (Yani Meage-MK)

Gedung ini juga digunakan untuk kursus buta huruf, sebab banyak ibu yang mau belajar menulis dan membaca agar mereka dapat menulis surat untuk anak-anak mereka yang belajar di luar pulau, di seluruh Indonesia. Pekerjaan memberi kursus ini dilakukan oleh ibu-ibu yang berasal dari pantai Papua, dari pedalaman dan dari Sumatera: Okto Ronsumbre, Loisa Mirino dan Ester Rawar berasal dari pantai, Johana Howelengga dari Welarek, Naomi Elintamon dari Angguruk, Natalia Siep dari lembah Mugwi dan Ibu Natasia dari Sumatera. Pekerjaan yang dimulai dengan sederhana di Yohosem berkembang pesat di ‘Tuangken’.

Berkat kerja keras dan disiplin hal yang mulai kecil berkembang menjadi sesuatu yang besar. Di dalam pertemuan dengan ibu-ibu di kampung ini terlihat bahwa Injil Yesus mendukung kehidupan mereka di dalam masyarakat luas. Cerita ini adalah cermin pengalaman indah saya selama di Papua. Akhir kata saya mengharapkan agar GKI di Tanah Papua selalu berdampingan dengan dan membantu penduduk di sana dalam kehidupan mereka, terutama dalam menghadapi penderitaan dan pergumulan hidup mereka. Yang penting bukan gedunggedungnya yang mewah dan juga bukan persaingan dengan gereja lain atau agama lain tentang siapa yang terbaik. Kekuatan kita adalah cinta kasih di dalam Tuhan, seperti yang tertulis di dalam Injil, yang merupakan penghiburan bagi kita selama hidup. Kasih itu menyertai GKI di Tanah Papua dan kita semua.

Pada Februari 2018 di Belanda suster Trijntje Huistraia berpesan supaya ibu-ibu di Papua untuk berpegang pada kesetiaan dan kejujuran. “Saya sampaikan pada ibu-ibu di Papua supaya setia dan jujur, seperti yang saya belajar dan alami di daerah Papua.”

“Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia yang menjadikannya. Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik..” Ibrani 10: 23-24

36 tahun hidup dan bekerja sama dengan teman sekerja serta saudara seiman di Tanah Papua, memberi arti yang sangat mendalam. Dengan senang hati saya bekerja di sini, di tanah ini! Semoga TUHAN sendirilah yang akan menggenapi pekerjaan kita sesuai dengan kehendakNya. Salam!

Trijntje Huistra adalah seorang berkebangsaan Belanda yang perna bekerja di Tanah Papua selama kurang lebih 35 tahun, sejak 1960 dan terakhir tahun 2002. Ia lahir pada 23 Februari 1938 dan meninggal pada 1 September 2018 tepat pada usia ke 80 tahun di salah satu rumah sakit di Belanda karena sakit. Ia dikebumikan pada tanggal 7 September 2018 waktu Belanda.

Ia meninggalkan seorang kakak perempuan dan Enny Kenangalem, seorang anak yang diadopsi dari Angguruk yang telah menyelesaikan pendidikan dokter dan sedang mengapdi sebagai dokter.

 

Artikel ini ditulis oleh Trijntje Huistra yang dirangkum Elisa Sekenyap dari bukunya “Bersatu Dalam Tuhan” yang disunting Pdt.Dr.Siegfried Zöllner dan Pdt.Henk van der Steeg. Buku Bersatu Dalam Tuhan dipersembahkan untuk GKI di Tanah Papua yang genap berusia 60th (pada 2016).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *