HISTORIS

Trijntje Huistra, Guru dan Suster Orang Papua

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Mengingat kepergian guru dan suster Trijntje Huistra yang bekerja di pesisir pantai hingga di pegunungan tengah Papua, para pelayan, rekan kerja dan simpatisan gelar ibadah syukur di P3W GKI Padangbulan Jayapura, Papua pada, Jumat (7/9/2018).

Selain di P3W Padangbulan, ibadah syukuran mengenang kepergian guru dan suster Trijntje juga dilakukan di Kurima pada tanggal 7 September 2018 oleh pelayan dan ibu-ibu di wilayah Kurima, Ibiroma, Mugwi dan Yoghosem. Di hari yang sama, tubuh dari Trijntje dikebumikan di Belanda pada pukul 14:00 waktu Belanda.

Trijntje Huistra adalah seorang berkebangsaan Belanda yang perna bekerja di Tanah Papua selama kurang lebih 35 tahun, sejak 1960 dan terakhir tahun 2002. Ia lahir pada 23 Februari 1938 dan meninggal pada 1 September 2018 tepat pada usia ke 80 tahun di salah satu rumah sakit di Belanda karena sakit.

Kesan pesan mengenang kepergian suster Trijntje Huistra

Pdt.Abraham Abisai, mewakil BP Am Sinode GKI di Tanah Papua yang bersama suster Trijntje melakukan pekerjaan pelayanan di Kurima mengucapkan terima kasih atas apa yang dilakukan suster buat GKI di Tanah Papua.

“Saya atas nama GKI menyampaikan turut berduka yang mendalam, tetapi juga berterimakasih atas apa yang ia lakukan terharap kami orang Papua di Tanah Papua,” kata Pdt.Abisai dalam kesan pesan syukuran yang diselenggarakan P3W itu.

Suasana pengucapan syukur mengenang kepergian Trijntje Huistra di P3W Padangbulan, Jumat (7/9/2018). (Elisa sekenyap-MK)

Yulce Wenda Enembe, istri dari Gubernur Papua, Lukas Enembe yang adalah alumni P3W GKI di Tanah Papua mengapresiasi kerja seorang guru dan suster Trijntje Huistra di pesisir pantai hingga pegunungan tengah Papua.

“Terima kasih suster Trijntje atas semua yang suster telah buat di Papua. Saya termasuk anak yang dididik di P3W dengan berbagai keterampilan. Tuhan saja yang akan membalas jerih paya suster di pesisir dan di pegunungan Papua,” ucap Yulce.

Ia berpesan supaya apa yang suster Trijntje lakukan untuk diteruskan, terutama dari hasil jerih payahnya yang telah menghasilkan banyak orang. Ia percaya pekerjaan ini sedang dilakukan oleh ibu-ibu di P3W maupun di jemaat-jemaat.

Nathan Pahabol, Anggota DPRP Papua yang adalah anak sponsor dari suster Trijntje Huistra memberikan apresiasi yang mendalam kepada suster karena telah mengangkat harkat dan martabat perempuan Papua melalui P3W Polimo, Wamena, Teminabuan dan Jayapura.

“Kini suster telah tiada, tetapi spirit dan motivasi sudah tertanam di lubuk hati Trijntje-Trijntje Papua yang masih kerja dan akan terus bekerja di Papua. Terima kasih atas apa yang suster lakukan buat kami orang Papua,” ucap Nathan.

Masa kerja di Papua

Trijntje Huistra adalah seorang berkebangsaan Belanda yang diutus Zending ke Serui pada tahun 1960 untuk mengajar sekolah gadis hingga tahun 1963. Selama tiga tahun lebih ia mengajar di Serui bersama sejumlah guru dari Papua dan Belanda. Tahun 1963 kembali ke Belanda.

Sekembalinya ke Belanda, ia belajar di sekolah Bidan sebagai modal untuk bisa kembali ke Papua karena kerinduannya terhadap Papua. Ia akhirnya diutus kembali ke Papua bukan sebagai guru, tetapi suster atas kerjasama GKI di Irian Jaya waktu itu, tepatnya di rumah sakit GKI Efata Angguruk daerah Yalimo, pada 1969-1983. Selama 14 tahun di Angguruk.

Pada 1983, ia kembali ke Belanda dan menyesuaikan pendidikan kesehatan di Amsterdam. Pada 1984 ia ditugaskan kembali ke Papua, kali ini ke Polimo, Kurima bukan sebagai suster, tetapi pembina gadis-gadis dan kaum wanita GKI di Wilayah Kurima, Ibiroma, Mugwi dan Yoghosem hingga tahun 2002.

Atas kepekaannya terhadap keinginan sejumlah pemuda Kurima yang dipimpin pendeta Judas Meage, mereka mendirikan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Wanita (P3W) Tuangken Polimo berdasarkan bantuan Jemaat Waldbrol Jerman melalui United Vangelical Mission (UEM).

Masa kerja terakhir di Papua ia habiskan di Polimo, Kurima hingga kembali ke Belanda 2002.

Suster meninggalkan seorang kakak perempuan dan Enny Kenangalem, seorang anak yang diadopsi dari Angguruk yang telah menyelesaikan pendidikan dokter dan sedang mengapdi sebagai dokter.

Masa pensiunya ia habiskan dengan kegiatan Solidaritas West Papua di Belanda bersama sejumlah rekannya. Ia termasuk pendiri dan penggerak solidaritas ini. Pada Februari 2018, ia bersama rekan-rekannya dari Solidaritas West Papua Belanda selenggarakan seminar Papua bertajuk ”Mimpi dan kenyataan West Papua di Pasifik dari pandangan jurnalis dan aktivis Papua”.

Ibu-ibu kaum ibu dari Rayon GKI Kurima, Ibiroma, Mugwi dan Yoghosem ketika berduka di P3W Tuangken Polimo atas kepergiaan suster Hidup Trijntje di Belanda. (Yani Meage-MK)

Pada Februari 2018 di Belanda suster Trijntje Huistraia berpesan supaya ibu-ibu di Papua untuk berpegang pada kesetiaan dan kejujuran. “Saya sampaikan pada ibu-ibu di Papua supaya setia dan jujur, seperti yang saya belajar dan alami di daerah Papua.”

Satu kutipan ayat nats yang menjadi pegangan suster Trijntje Huistra;

“Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia yang menjadikannya. Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik”. (Ibrani 10.23-24).

 Pewarta: Elisa Sekenyap

 

Sumber: https://suarapapua.com/2018/09/08/trijntje-huistra-guru-dan-suster-orang-papua/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *