HOME MITRA

Ini kisah Martinus Adadikam, Warga Papua yang tinggal di Vanimo, PNG

Marthinus adalah seorang guru setingkat SD di salah satu sekolah pemerintah di Vanimo, PNG. Ia saat ini menjabat sebagai Kepala Sekolah di SD tersebut, tetapi juga dipandang sebagai tokoh gereja di Vanimo. Marthinus sendiri sudah berusia 58 tahun (1959-2017).

Pada akhir Oktober 2017, kepada majalah kemitraan ia mengaku terkesan atas hubungan kemitraan antara GKI di Tanah Papua dan Evangelical Lutheran Church (ELC-PNG) yang menurutnya seakan-akan memberikan spirit baru dalam iman kita masing-masing.

Berikut bagaimana cerita Marthinus bisa tinggal di PNG dan melayani.

Saya berasal dari Biak Barat kampung Adadikam, Papua. Saya lahir tahun 1959, dan menempuh pendidikan SD di kampung. Setelah itu saya lanjut sekolah di Jayapura dan melanjutkan lagi di SGB Ifar Gunung Sentani.

Setelah hari-hari itu berlalu, pada tahun 1970 ketika melihat situasi di Papua yang tidak menentu, saya ke Vanimo, PNG pada usia 16 tahun. Di Vanimo saya menghabiskan waktu selama satu tahun. Setelah satu tahun, saya dijemput oleh pengurus gereja Lutheran Church yang berpusat di Lea, PNG. Awalnya, saya tidak tahu apa tujuan mereka, tetapi belakangan mereka sampaikan untuk menyekolahkan saya. Selain saya, dua teman saya juga dijemput bersama untuk disekolahkan.

“Sekarang ini, saya bersyukur karena Lutheran Church saya bisa sekolah dan saya bisa seperti ini,” tutur Marthinus mengingat masa-masa sulit di Vanimo.

Sebenarnya, saya pernah sekolah di Papua tetapi ketika ke Lae saya tetap dimasukan kembali ke sekolah setingkat SD di kelas VI. Sebelumnya saya bersama dua teman tadi ditempatkan di tempat khusus untuk belajar bahasa Inggris secara intensip selama 6 bulan, karena semua sekolah di PNG dari tinggkat SD hingga perguruan tinggi menggunakan bahasa Inggris.

Setelah itu, saya belajar di kelas 6 dan tidak lama lagi ujian dilakukan. Saya lulus dan melanjutakn sekolah tingkat SMP. Ketika di klas VIII, saya bersama 119 orang dites dan akhirnya hanya 90 orang yang lolos melanjutkan sekolah di klas IX.

Pada tahun 1975, saya selesai SMP. Untuk tingkat SMA, saya dipilih untuk masuk sekolah keguruan selama 2 (1975-1978). Setelah itu saya ambil sertifikat, kemudian saya menjadi guru di salah satu sekolah di Lae pada tahun 1978. Jadi mulai tahun ini saya mulai mengajar dari Lae sampai West Sepik selama dua tahun. Satelah itu, gereja fasilitasi saya kembali untuk ambil diploma.

Semua biaya dan tempat tinggal selama kursus hingga perguruan tinggi dibiayai oleh Lutheran Church, termasuk asrama.

Mulai bertugas sebagai guru

Setelah semua proses pendidikan bersama gereja Lutheran selesai, pertama-tama saya ditugaskan mengajar anak-anak dari petugas Mission Aviation Fellowship (MAF) di PNG. Saya mengajar sebagai guru biasa selama kurang lebih tiga tahun, setelah itu saya diangkat menjadi kepala sekolah.

Jadi saya lebih banyak menghabiskan waktu di daerah pedalaman Provinsi Sandaun. “Itu juga merupakan sekolah milik MAF. Pokonya saya pindah-pindah dari tempat yang satu ke tempat lain.”

Jadi kurang lebih selama 7 tahun saya melakukan tugas sebagai guru ditambah usia saya 32 tahun, saya belum memiliki seorang istri, bahkan pacar. Pada tahun 1984 barulah saya mengenal seorang perempuan asal PNG yang adalah seorang guru dan menikah denganya.

Berkeluarga

Acara pernikahan dilakukan di Port Moresby, ibu kota PNG. Di masa-masa itu kami bersama terus berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain, terutama di daerah pedalaman. Dari hasil pernikahan itu, kami dikaruniai 4 anak.

Anak pertama saya namanya Melisa Adadikam yang sudah bekerja sebagai seorang guru di Don Bosko, sekolah dari Katolik. Anak kedua saya juga seorang guru yang sedang mengajar di Aitape. Anak ketiga saya tinggal di Port Moresby sebagai anggota Komisi Pemberantasan Korupsi di PNG. Sedangkan, anak keempat tinggal di Port Moresby dan kerja sebagai kuasa hukum internasional.

Istri saya sudah pensiun lebih awal karena darah tinggi. Saya sendiri sebagai Kepada Sekolah di salah satu SD di Vanimo.

Selain saya sebagai guru, saya juga sebagai salah satu tokoh gereja di Vanimo, mulai dari gereja Lutheran hingga gereja kemah injil di PNG, karena saya aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan gereja. Jadi ketika saya hitung, saya sudah tinggal di PNG selama 40 tahun.

Sementara dua teman saya yang bersama-sama di sekolahkan oleh Lutheran tinggal di Lae, tetapi mereka sudah meninggal dunia. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *